Refleksi Akhir Tahun 2016 & Diskusi Kebangsaan “Merawat Kebhinekaan”

Refleksi Akhir Tahun 2016 & Diskusi Kebangsaan Merawat Kebhinekaan

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan cita-cita perjuangan para pendiri (founding father) Indonesia, perjuangan maha berat para pahlawan yang mengorbankan harta dan nyawa. Dan Alhamdulillah semangat perjuangan ini masih ada di dalam diri generasi muda yang tergabung dalam wadah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Hal ini tercermin dalam kegiatan yang hangat nan penuh semangat pada hari Jum’at kemarin, 30 Desember 2016 bertempat di ruang konferensi Hotel Golden Tulip Tunis, hasil kerjasama antara PPI Tunisia dengan KBRI Tunisia. Acara yang bertajuk Refleksi Akhir Tahun 2016 & Diskusi Kebangsaan “Merawat Kebhinekaan” sukses memungkasi tahun 2016 dengan serangkain aktifitas yang menguatkan kembali arti penting persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Membincang tema kebangsaan bukanlah ‘makanan’ pelajar dan mahasiswa PPI Tunisia saja. Terbukti selain dihadiri oleh duta besar LBBP RI untuk Tunisia beserta seluruh staff KBRI Tunisa, hadir pula masyarakat indonesia lainnya dari staff Medco Energy Indonesia dan keluarga, juga masyarakat Indonesia laiinya yang ada di Tunisia.

Dimulai sekitar pukul 15.00, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kemudian moderator seminar, saudara Ariandi yang juga merupakan ketua PPI Tunisia, langsung membuka dengan diskusi panel dengan tiga pembicara, Bapak Rony Prasetyo Yuliantoro (Duta Besar LBBP RI untuk Tunisia), Bapak Budi Juliandy (Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta), dan Bapak Dede Ahmad Permana (Kandidat Doktor Universitas al-Zaitunah Tunisia).

Image may contain: 4 people, people sitting, table and indoor

Image may contain: 1 person, indoor

Usai seminar, acara dilanjutkan dengan diskusi ala Indonesia Lawyer Club (ILC) yang dikomandani oleh bung Sugianto Amir. Satu demi satu peserta menyampaikan pemikirannya terkait bangsa Indonesia, khusunya berkaitan dengan kebhinekaan di Indonesia. Hangatnya diskusi mampu mengusir jauh-jauh rasa dingin akibat musim dingin di Tunisia.

Image may contain: 5 people, people sitting, people playing musical instruments and guitar

Disela-sela seminar dan diskusi ala ILC itu, peserta yang hadir langsung disuguhi penampilan apik dari musisi PPI Tunisia, Azmi, Fadil, Zulfa dan Alwan, juga deklamasi puisi dari staf KBRI Tunisia; bapak Nedy dan ibu Merita.

Image may contain: 2 people, people sitting and indoor

Diskusi ala ILC selama dua sesi pun serasa tak cukup membincang tema kebangsaan ini. Hingga akhir sesi, masih banyak peserta yang meminta waktu untuk menyampaikan pemikirannya. Namun, acara harus diakhiri untuk dilanjutkan dengan santap malam. Dan usai santap malam, hadirin pun meninggalkan tempat acara sekitar pukul 20.00 dengan penuh semangat dan harapan masa depan yang lebih baik. Insya allah.

Semoga bangsa dan negara Indonesia kedepan semakin sejahtera dan maju, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan. Aamiin.

[Maklumat] Agenda PPI Tunisia : Dialog & Refleksi Akhir Tahun 2016

[Maklumat] Agenda PPI Tunisia Dialog & Refleksi Akhir Tahun 2016

Dalam rangka menutup jadwal agenda tahun 2016, pada Jumat (30/12), Ppi Tunisia bekerja sama dengan KBRI Tunisia akan menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan dengan tema “Merawat Kebhinekaan” yang akhir-akhir ini menjadi topik perbincangan yang cukup hangat di semua kalangan.

Adapaun panelis utama yang akan berbicara pada acara tersebut adalah Bapak Ronny Prasetyo Yuliantoro selaku Dubes LBBP RI untuk Tunisia, Dede Ahmad Permana dosen tetap IAIN Banten dan Budi Juliandi dosen tetap IAIN Langsa.

Image may contain: 4 people, people smiling, text

Peringatan 12 Tahun Tsunamai Aceh (2004-2016)

Peringatan 12 Tahun Tsunamai Aceh (2004-2016)

Besok tanggal 26 Desember 2016 akan diadakan peringatan 12 Tahun Tsunami Aceh dengan tema “Majukan Negeri, Bangun Budaya Siaga Bencana Masyarakat” dan serangkaian agenda yang akan dipusatkan di area Masjid Baiturrohim Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh. (sumber: www.goaceh.co)

Dengan adanya peringatan ini, semoga masyarakat Indonesia semakin siaga dalam menghadapai segala bencana, sesuai dengan spirit hari Relawan Nasional yang tanggalnya diambil dari hari terjadinya bencana Tsunami, 26 Desember 2004 silam.

Image may contain: sky, text and outdoor

Mari kita berdo’a bersama, semoga seluruh arwah korban bencana tsunami Aceh mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Alfatihah..

PPI Tunisia

PPI Tunisia Hadiri Upacara Hari Ibu Yang ke-88 di KBRI Tunisia

PPI Tunisia Hadiri Upacara Hari Ibu Yang ke-88 di KBRI Tunisia

Tunis – Kamis (22/12), Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia mengikuti upacara Hari Ibu ke-88 yang diadakan oleh KBRI Tunis.

Image may contain: 7 people, people standing and indoor

Image may contain: 2 people, people standing

Hari Ibu pada tahun 2016 mengangkat tema “Kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari kekerasan, perdagangan orang dan kesenjangan akses ekonomi terhadap perempuan”.

Image may contain: 8 people, people standing and suit

Rangkaian acara dalam upacara dibacakan oleh Bapak Ulung Samara, salah seorang staf KBRI Tunis, antara lain: pembacaan teks Pancasila, UUD, sejarah singkat hari ibu, pesan dan amanat duta besar RI, kemudian ditutup dengan do’a.

Mahasiswa Baru PPI Tunisia Ikuti Orientasi Ke-Tunisia-an & Ke-Zaitunah-an

Salah satu dari rangkaian kegiatan peyambutan mahasiswa Baru (Maba) Tunisia 2016 adalah pembekalan tentang kezaitunahan dan ketunisiaan oleh Ust. Dede A. Permana, kandidat doktor Unv. Ezzitouna.

Image may contain: 3 people, people sitting and indoor

Dilaksanakan pada sore tadi, Kamis (22/12) di Ruang Bhinneka Tunggal Ika, Sekretariat PPI Tunisia, Makhla Zaim Tunis. Hadir pula pada kesempatan kali itu tiga kandidat doktor dari Uin Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang tengah menjalani risetnya selama enam bulan di Tunisia.

Image may contain: 4 people, people sitting and indoor

Berjihad Karena Ingin Menghadiahi Ibu Surga

Berjihad Karena Ingin Menghadiahi Ibu Surga

Radikalisme dan terorisme menjadi sorotan utama para pemerhati perdamaian di dunia. Berbagai seminar dan kampanye perdamaian rutin digalakkan, salah satunya di Tunisia pada Senin (14-15/11). Seminar itu diadakan oleh Family Against Terrorism and Extremism di Gammarth, Tunis.

Institusi tersebut adalah bentuk aksi solidaritas para orang tua yang anak-anaknya menjadi korban perekrutan ISIS atau gerakan radikalisme agama yang laiinya. Mereka berpusat di London. Seminar kali ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya seminar dengan tajuk yang sama pernah diadakkan di Prancis pada tahun 2015.

Anggotanya terdiri dari beberapa negara. Baik dari Eropa, Amerika, Afrika dan juga Asia. Nah dari Asia Tenggara yang mewakilinya adalah Indonesia dan Malaysia. Dari Indonesia Yayasan Prasasti Perdamaian yang hadir dalam kesempatan itu. Lalu ada juga dari UIN Sunan Ampel, Surabaya.

PPI Tunisia berhasil mewawancarai tim Prasasti Perdamaian yang diwakili oleh Alijah Dete, Dewirini Anggraeni Subijanto, Naila Fitria. Melalui Ibu Dete kami mencoba memimba pengalaman-pengalaman beliau dalam gerakkanya menanggulangi aksi trorisme dan kstrimisme.

Seperti yang saya ketahui berdasarkan keterangan yang ibu sampaikan kemarin saat pembukaan film ‘Jihad Selfie’ di Wisma Dubes kemarin bahwa tujuan kedatangan ibu bersama tim di sini adalah untuk mensosialisasikan film ‘Jihad Selfie’. Apakah ada agenda lain selain sosialisasi film tersebut?

Jadi kebalik mas sebenernya. Sayang di Tunisia menghadiri International Second Summit. Itu tentang Family Against Terrorism and Extremism. Nah, kebetulan kami di sini dan kami juga ingin mempromosikan film ‘Jihad Selfie’. Jadi kenapa? Karena kita berpikir bahwa film ini sebagai media kampanye kita untuk preventif , mencegah supaya anak-anak muda kita tidak terprovokasi dan terekrut oleh ISIS. Ya kan? Nah terutama di wilayah-wilayah midle east karena Tunisia masuk wilayah midle east kan? Karena kita khawatir banyak mahasiswa kita di wilayah midle east yang sebenarnya sudah direkrut. Pertama, di Kairo kan? Jadi gimana caranya film jihad selfie ini menjadi media kita untuk mencoba membentengi anak-anak muda kita supaya tidak mudah diprovokasi. Nah, jadi itu sebenarnya kita gunakan momen diklat saya kesini.

Nah, tadi Ibu mengatakan dari organisasi Yayasan Prasasti Perdamaian. Bisa dijelaskan secara singkat itu organisasi apa?

Yayasan Prasasti Perdamaian ini adalah yayasan non-profit organization (NGO) yang fokus berkecimpung dalam membangun perdamaian. Tapi isisnya lebih spesifik karena perdamaian kan luas ya. Nah jadi kita spesifik untuk isu terorisme dan ekstrimisme. Jadi kita fokus bekerja dalam bidang itu dengan lebih fokus pada rehabilitasi dan reintegrasi. Jadi kita berusaha memberikan kesempatan kedua untuk orang-orang yang pernah dikategorikan atau mendapat label teroris. Jadi kita memberi ruang pada mereka supaya mereka bisa kembali lagi ke masyarakat dan kemudian supaya mereka tidak kembali melakukan aksi-aksi lagi. Karena kalau tidak dirangkul, mereka kan biasanya -ternyata setelah saya pelajari, orang yang baru lepas dari penjara itu dia mengalami masa transisi dan itu masa rawan. Mentalnya masih labil. Nah rawannya  itu biasanya dia bisa ditarik ke dalam kelompok mana saja, kelompok apa saja.  Nah itu bisa membuat orang tersebut saat bingung sedangkan dia tidak punya pekerjaan, tidak punya teman. Dan pastinya dia tidak mau berteman dengan siapa saja karena dilabeli sebagai teroris, nah itu potensi dia untuk direkrut ke dalam kelompok-kelompok tersebut cukup tinggi. Nah jadi kita mencoba menyiapkan lingkungan dimana orang ini merasa nyaman dan tidak ingin kembali.

Adakah beberapa sampel dari hasil yang ibu tangani?

Jadi kita sebenarnya sudah mendampingi 35 orang mantan teroris dari sejak kita berdiri tahun 2008 ya. Mendampingi dalam arti membantu mereka dalam modal usaha. Kalau di luar modal usaha si banyak yang kita temui. Ketika dia keluar dari penjara, dia kan gak punya pekerjaan. Salah satu opsi yang bisa mereka lakukan adalah bikin usaha sendiri. Nah untuk membuat usaha sendiri kan butuh biaya. Nah itu, mereka datang ke kita meminta dukungan dana ada yang dikasih grand. Dulu awalnya kita kasih grand, bukan pinjaman. Tapi ternyata gitu ya, tanggung jawabnya ya. Dikasih lupa, hehe.  Dia bilang mau bikin bisnis. Duitnya mana, tapi bisnisnya gak jalan. Nah gitu, ahirnya kita ganti strategi. Kita gak mau lagi ngasih gratis tapi kita kasih dia dalam bentuk pinjaman. Jadi kita ikat dia supaya bertanggung jawab.

Berarti nanti ada semacam timbal baliknya ya?

Jadi kita selalu bilang, uangnya pp ini gak banyak karena memang itu kan gaji kita yang dipotong. Jadi sumber dananya dari gaji. Karena mereka tidak mau menerima uang dari negara dan karena mereka gak mau menerima uang dari donor. Jadi dia mau uang kita sendiri. Nah uang kita sendiri dari mana? Ya sudah akhirnya kita sepakat potong gaji.

Alasannya kenapa Bu, mereka gak mau menerima?

Karena mereka tidak mau dikooptasi negara. Dan donor itu kan dianggap kafir.

Oh, berarti pemikiran mereka masih menganggap pemerintah itu bughot masih ada ya?

Oh banyak.

Nah itu gimana bu, supaya mereka berubah?

Nah kita coba pelan-pelan. Jadi pendampingan kita itu bukan sekedar pendampingan ekonomi ya, karena bukan itu tujuan kita. Pendampingan ekonomi itu hanya sarana, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita merubah cara berpikirnya. Nah itu kita pelan-pelan. Gak bisa itu cepet. Untuk ideolog-ideolog dalam dunia terorisme ini kan ada tiga level. Ada pengikut, ada simpatisan, ada timtek ya: ideolognya. Nah merubah ideolog itu panjang prosesnya. Kalau merubah dua level di bawah ini agak lumayan. Nah itu kita mencoba merubah dia. Kita kasih wacana-wacana baru, kita kasih lingkungan baru, kita kasih temen-temen baru. Pelan-pelan kita coba tarik mereka.

Dan itu bisa dikatakan berhasil atau bagaimana?

Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Itu, dari 35 orang yang kita dampingi, lima orang ternyata kembali ke kelompok garis keras lagi. Tapi yang 30 lainnya masih bertahan.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan mereka kembali lagi, padahal sudah diadakan berbagai usaha seperti pendampingan dll?

Sebenarnya ada banyak faktor. Jadi gini, kelompok ini kan merasa bahwa mereka masih punya banyak tanggung jawab terhadap islam: membela islam dan mengislamkan Indonesia. Jadi mereka merasa masih punya tanggung jawab itu dan juga mimpi untuk mewujudkan itu. Nah mereka juga merasa bahwa mereka adalah bagian dari dunia. Dalam artian apa yang terjadi di dunia islam sana mereka harus membantu, mereka merasa terpanggil. Jadi dari yang lima ini kembali lagi. Baik di tingkat lokal maupun tingkat internasional. Jadi misalnya ada kegiatan-kegiatan terorisme -aksi-aksi yang menggunakan kekerasan- mereka ikut lagi karena mereka merasa terpanggil bahwa ini tanggung jawab dia untuk membela islam. Nah kalu yang di luar adalah tanggung jawab dia sebagai sesama muslim terhadap saudaranya.

Gerakan terorisme di Indonesia begitu masif ya Bu. Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah atau aparat sampai ada pesantren besar di Lamongan: Al Islam itu. Mereka mempelajari granat dan berbagai senjata api?

Pemerintah kecolongan ini. Tapi setelah kasus Amrozi cs dihukum mati kayaknya pesantren ini jera ya. Jadi Al Islam sekarang sudah tidak ngajarin lagi tetapi masih ada pesantren-pesantren lain yang mengajarkan. Nah pemerintah kitu itu kan tidak bisa melarang karena ada kebebasan yang merupakan ciri dari demokrasi. Terkadang demokrasi juga salah jalan, hehe. Senjata makan tuan. Nah pemerintah kita merasa, satu: kalau mereka belum terbukti melanggar hukum baik itu hukum pidana, kan gak bisa ditangkep. Meskipun ada tanda-tanda yang mengarah kesitu. Pemerintah menunggu mereka beraksi dulu, karena kalu ditangkep pemerintah dianggap melanggar HAM. Saya juga pernah nanya, “ Pak, FPI itu kan sudah jelas-jelas. Kenapa tidak ditangkep, kenapa tidak dibubarin?”. “Lha terus gimana Bu, belum ada bukti kuat?”. Nah jadi gitu, ada sisi positif tetapi juga ada sisi negatif juga ya. Jadi mereka ahirnya menyalah gunakan kebebasan itu kan.

Kemarin Ibu kan menghadiri seminar terorisme itu ya. Kira-kira bisa dishare kah?

Nah jadi seminar ini digagas oleh Family Against Terrorism and Extremism. Jadi ada sebuah kelompok di London. Nah mereka ini suatu kelompok yang concern  terhadap keluarga yang anak-anaknya ini direkrut oleh ISIS, Jabal Nushro. Pokoknya organisasi-organisasi yang melakukan kekerasan atas nama agama. Nah mereka ini para orang tua yang sudah kehilangan anak-anaknya. Ada yang meninggal dan ada juga yang gak meninggal. Mereka mencoba membangun solidaritas. Ayo kita bergabung bersama-sama dan kita suarakan untuk against terrorism and ekstremism. Sekitar 100-an orang hadir tapi itu belum mencakup seluruh dunia. Karena dari Asia Tenggara saja yang hadir cuman Indonesia dan Malaysia. Jadi ini respresentatif saja. Dari Amerika Utara ada, dari Eropa ada, dari Afrika ada, dari Asia ada. Ini perwakilan sekitar 100 orang. Dan mereka mengajak kita untuk bergabung untuk menyuarakan hal yang sama. Agendanya kemarin itu kita mendengarkan curhatan dan kesedihan para ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya karena korban perekrutan. Ada juga agenda berupa bertukar informasi tentang dialektika: Apa sih yang menyebabkan orang ini terekrut? Harusnya kan kayak gini. Ini kan perdebatan konteks agama, konteks politik. Maka ini harus dishare lah dari beberapa narasumber. Terus juga yang terahir mereka sharing hasil riset mereka . JAdi mereka melakukan riset terhadap perempuan; peran orang tua. Mereka melihat: Kira-kira keluarga punya peran gak sih dalam Konkret Ekstremism and Terrorism?

Ternyata mereka mengadakan riset dan riset mereka menunjukkan bahwa orang tua punya peran yang besar dalam memerangi terrorism and ekstremism yang mana dalam riset saya, saya menumakn hal yang terbalik. Ndak..ndak. Saya menemukan itu juga, tapi ada factor lain juga, ada peran lainnya juga yang dimainkan oleh orang tua. Jadi saya share kemarin bahwa tidak semua orang tua punya rule positif. Karena di Indonesia saya temukan ada rule negative. Rule negatifnya justru orang tua yang menjadikan anaknya supaya menjadi jihadis. Seperti yang saya ceritakan dalam film ‘Jihad Selfie’ itu. Ada Anshori dan Syafi’i. Dia pingin kan anak-anaknya menjadi jihadis? Nah itu yang sempat kita capture kan. Yang tidak dimuat dalam film kami juga ada.

Lalu apa reaksi dari teman-teman saat ibu memaparkan hasil riset tersebut?

Oh iya, benar juga ya. Nah untuk orang tua yang memerankan peran seperti ini kita musti gimana? Kalau dengan orang tua yang punya peran positif, oke. KAn harus mendampingi, merangkul. Nah itu bener. TApi kalua orang tua yang perannya justru negative, kan kita musti gimana menghadpinya? Kan itu jutru susah kan? Kita malah dianggap berlawanan kan dengan tujuan dia. Nah ini saya sendiri sedang berpikir; Gimana caranya menghadapi orang tua-orang tua yang kayak gitu? Strategi apa yang harus kita pakai?

Saat ini Ibu dkk sudah punya gamabaran kah?

Nah ini kita sedang diskusi; gimana caranya ya? Nah samapai saat ini kami baru terpikirkan bahwa salah satu caranya adalah kita melakukan semacam life in gitu. Karena merubah itu gak gampang kan. Harus tinggal bersama. Jadi saya mulai berpikir; strateginya apa pakai ekonomi ya? Saya lagi berpikir begitu. Nanti kita bikin usaha. Cuman itu usahanya, lagi-lagi sebagai pintu masuk. Tapi target kita; bagaimana merubah pikiran para ibu ini? Ini masih cara klasik. Karena saya belum nemu cara yang lain, hehe.

Saya tertarik dengan obrolan ibu kemarin. Ternyata motif orang-orang yang bergabung dalam kelompok radikal itu berbeda-beda. Bisa diceritakan lebih detailnya, Bu?

Motivasi orang-orang yang berangkat jihad itu bermacam-macam. Motivasi membela islam itu sudah pasti. Tapi ternyata ada motivasi ekonomi. Saya ajak diskusi salah satunya. Dia bilang begini : ‘’Mba kan enak. Wong kita dibayar. Coba kalau kita gak gabung ISIS, siapa yang mau kasih makan? Kita dijamin kok. Anak-anak saya dijamin pendidikannya, istri saya pun terjamin kehidupannya (mendapat rumah)”. Terus saya bilang: “Itu berarti  Karena motif duit juga ya? “.

“Iya lah. Kita gak munafik juga”.

Terus ada yang menarik juga ini. Anak-anak muda ini ada faktor ingin membahagiakan orang tuanya (membeli surga). Jadi ada kasus diamana anak-anak yang rela melakukan jihad itu hanya untuk memberikan surga kepada ibunya. Itu yang membuat saya jadi ‘trenyuh’ ya. Itu kayak kasus Wildan dan Solih yang kayak di film. Sama satu lagi kasus. Itu belum ada di film kita. Saya lupa namanya. Dia orang Solo. Motifnya dia ingin memberikan surga kepada Ibunya. Jadi suasana di rumahnya dia itu ‘panas’. Dia sering melihat ayah-ibunya bertengkar. Dan dia melihat ibunya itu sering tertekan karena bapaknya yang lebih dominan. Jadi dia ingin memberikan hadiah yang nilainya tidak bisa didapatkan dengan materi. Nah surga kan mahal. Hadiah surga siapa yang bisa ngasih? Nah dia ingin memberikan hadiah surga kepada ibunya dengan cara jihad itu. Maka jihad lah dia. Ahirnya ia menjadi korban perekrutan.  Kalau yang satu itu awalnya ia berangkat studi ke luar negeri kemudian ia bergabung dengan organisasi kemanusiaan. Namun kemudian di tengah jalan ia bergabung dengan kelompok ISIS. Sebelum dia berjihad -dia kayaknya sudah mempunyai firasat bakal meninggal- dia menelpon ibunya. Dia bilang: “ Tolong ikhlaskan saya karena ini adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan ibu. Saya ingin memberi surga.” Sempat dia menelpon ibunya dan memberikan itu. Makanya kalau kita ketemu ibunya. Ibunya kan cerita sama saya, sampai dia bilang: “ Saya ini gak pantes mendapat surga sebenernya karena saya itu masih kotor.” Saya nanya: “Ibu bangga ndak anaknya jadi jihadis dan bisa ngasih surga?”. Dia jawab: “Saya itu masih ingat ya dia lari-lari sana, tidur sama saya, main-main.” Nah jadi ibu itu tu melihatnya bukan dia sebagai jihadis tapi masa kecil anak ini. Dan itu yang membuat kita sedih juga.

Terus kalau yang Wildan Mukholad itu kan dia juga dari keluarga broken home . Nah dia pingin begitu. Dia ingin membahagiakan ibunya.

Korban perekrutan Di Indonesia itu kan cukup banyak ya Bu. Sekitar 500-an. Apakah ada motif lain atau agenda khusus yang menyebabkan mereka sangat semangta merekrut anak-anak Indonesia?

Saya melihatnya begini. Merekrut orang dengan gratis kan susah. Dan orang-orang yang dipilih ini sebenarnya juga yang dilihat skillfull ya. Bukan orang-orang yang kosong. Mereka orang-orang yang mempunyai kemampuan. Kayak teman saya itu, dia ditawari berkali-kali. Karena teman saya ini sudah pernah latihan militer saat dia sekolah di Pesantren Al Islam.  Nah dia itu kayak snipper juga. Dia itu dicoba ditarik berkali-kali tapi dia menolak terus. Nah kalau saya si melihat begini, mereka itu butuh personel/tentara yang gak perlu dilatih lagi, tetapi siap mati.

Terahir Bu. Apa pesan ibu untuk kami mahasiswa yang di midle east agar tidak menjadi korban perekrutan gerakan-gerakan radikal semacam ISIS itu?

Pertama gini. Belajar yang baik. Dalam artian jangan menelan mentah-mentah informasi-informasi yang berkaitan dengan konflik di Timur-Tengah. Kalian kan di Timur-Tengah ini. Tapi pahami motif konflik-konflik itu apa si sebenernya? Seperti contohnya, kasus Syiria. Dikabarkan tentang perang Sunni-Syiah tapi ternyata bukan seperti itu. Motifnya ekonomi dan politik. Perebutan jalur minyak.

Saya ketemu orang Palestina waktu saya kuliah di Korea datang dua orang Palestina ke kampus saya. Ternyata motifnya bukan perang Yahudi vs HAMAS, tetapi lebih ke morif ekonomi. Jalur juga. Kepentingan-kepentingan Yahudi, kayak gitu. Jadi itu motifnya ekonomi banget, motifnya politik banget. Jadi bukan motif orang-orang Islam yang dibunuh sama orang-orang non-muslim ya. Nah itu tolong dipahami.

Seperti saat saya ke Afghanistan juga. Saat saya di Afghanistan, saya mempelajari. Ternyata motif perang di Afghanistan itu bukan seperti motif perang yang dipahami oleh teman-teman Mujahidin kita di Indonesia. Ternyata motif perangnya lain. Oh iya, benar juga ya. Dan bahkan orang Afghanistannya bilang begini: “ Kami sudah capek perang terus. Negara kami gak pernah damai”. Nah keberadaan kita justru semakin memperpanjang perang ini. Nah itu kan kasian juga mereka. Jadi jangan cuman memandang dari ‘kacamata’ kita tapi kita harus memandang dari ‘kacamata’ orang lain, terutama masyarakat setempat. Jadi sebagai mahasiswa kalian harus berpiki kritis. Jangan hanya melihat suatu perkara dengan ‘kacamata kuda’ namun harus bisa melihatnya dari berbagai sisi. Pelajari lah konflik itu. Ketika anda direkrut kepentinga dia merekrut apa si sebenarnya?. Kita harus kritis. Jangan menelan mentah-mentah karena kalau kita menelan mentah-mentah kita akan menjadi korban. Nah, jadi sebagai mahasiswa kritislah dalam berpikir.

Terima kasih banyak Bu. Semoga bisa bermanfaat dan semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan yang lain.

Radikalisme dan terorisme menjadi sorotan utama para pemerhati perdamaian di dunia. Berbagai seminar dan kampanye perdamaian rutin digalakkan, salah satunya di Tunisia pada Senin (14-15/11). Seminar itu diadakan oleh Family Against Terrorism and Extremism di Gammarth, Tunis.

Institusi tersebut adalah bentuk aksi solidaritas para orang tua yang anak-anaknya menjadi korban perekrutan ISIS atau gerakan radikalisme agama yang laiinya. Mereka berpusat di London. Seminar kali ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya seminar dengan tajuk yang sama pernah diadakkan di Prancis pada tahun 2015.

Anggotanya terdiri dari beberapa negara. Baik dari Eropa, Amerika, Afrika dan juga Asia. Nah dari Asia Tenggara yang mewakilinya adalah Indonesia dan Malaysia. Dari Indonesia Yayasan Prasasti Perdamaian yang hadir dalam kesempatan itu. Lalu ada juga dari UIN Sunan Ampel, Surabaya.

PPI Tunisia berhasil mewawancarai tim Prasasti Perdamaian yang diwakili oleh Alijah Dete, Dewirini Anggraeni Subijanto, Naila Fitria. Melalui Ibu Dete kami mencoba memimba pengalaman-pengalaman beliau dalam gerakkanya menanggulangi aksi trorisme dan kstrimisme.

Seperti yang saya ketahui berdasarkan keterangan yang ibu sampaikan kemarin saat pembukaan film ‘Jihad Selfie’ di Wisma Dubes kemarin bahwa tujuan kedatangan ibu bersama tim di sini adalah untuk mensosialisasikan film ‘Jihad Selfie’. Apakah ada agenda lain selain sosialisasi film tersebut?

Jadi kebalik mas sebenernya. Sayang di Tunisia menghadiri International Second Summit. Itu tentang Family Against Terrorism and Extremism. Nah, kebetulan kami di sini dan kami juga ingin mempromosikan film ‘Jihad Selfie’. Jadi kenapa? Karena kita berpikir bahwa film ini sebagai media kampanye kita untuk preventif , mencegah supaya anak-anak muda kita tidak terprovokasi dan terekrut oleh ISIS. Ya kan? Nah terutama di wilayah-wilayah midle east karena Tunisia masuk wilayah midle east kan? Karena kita khawatir banyak mahasiswa kita di wilayah midle east yang sebenarnya sudah direkrut. Pertama, di Kairo kan? Jadi gimana caranya film jihad selfie ini menjadi media kita untuk mencoba membentengi anak-anak muda kita supaya tidak mudah diprovokasi. Nah, jadi itu sebenarnya kita gunakan momen diklat saya kesini.

Nah, tadi Ibu mengatakan dari organisasi Yayasan Prasasti Perdamaian. Bisa dijelaskan secara singkat itu organisasi apa?

Yayasan prasasti perdamaian ini adalah yayasan non-profit organization (NGO) yang fokus berkecimpung dalam membangun perdamaian. Tapi isisnya lebih spesifik karena perdamaian kan luas ya. Nah jadi kita spesifik untuk isu terorisme dan ekstrimisme. Jadi kita fokus bekerja dalam bidang itu dengan lebih fokus pada rehabilitasi dan reintegrasi. Jadi kita berusaha memberikan kesempatan kedua untuk orang-orang yang pernah dikategorikan atau mendapat label teroris. Jadi kita memberi ruang pada mereka supaya mereka bisa kembali lagi ke masyarakat dan kemudian supaya mereka tidak kembali melakukan aksi-aksi lagi. Karena kalau tidak dirangkul, mereka kan biasanya -ternyata setelah saya pelajari, orang yang baru lepas dari penjara itu dia mengalami masa transisi dan itu masa rawan. Mentalnya masih labil. Nah rawannya  itu biasanya dia bisa ditarik ke dalam kelompok mana saja, kelompok apa saja.  Nah itu bisa membuat orang tersebut saat bingung sedangkan dia tidak punya pekerjaan, tidak punya teman. Dan pastinya dia tidak mau berteman dengan siapa saja karena dilabeli sebagai teroris, nah itu potensi dia untuk direkrut ke dalam kelompok-kelompok tersebut cukup tinggi. Nah jadi kita mencoba menyiapkan lingkungan dimana orang ini merasa nyaman dan tidak ingin kembali.

Adakah beberapa sampel dari hasil yang ibu tangani?

Jadi kita sebenarnya sudah mendampingi 35 orang mantan teroris dari sejak kita berdiri tahun 2008 ya. Mendampingi dalam arti membantu mereka dalam modal usaha. Kalau di luar modal usaha si banyak yang kita temui. Ketika dia keluar dari penjara, dia kan gak punya pekerjaan. Salah satu opsi yang bisa mereka lakukan adalah bikin usaha sendiri. Nah untuk membuat usaha sendiri kan butuh biaya. Nah itu, mereka datang ke kita meminta dukungan dana ada yang dikasih grand. Dulu awalnya kita kasih grand, bukan pinjaman. Tapi ternyata gitu ya, tanggung jawabnya ya. Dikasih lupa, hehe.  Dia bilang mau bikin bisnis. Duitnya mana, tapi bisnisnya gak jalan. Nah gitu, ahirnya kita ganti strategi. Kita gak mau lagi ngasih gratis tapi kita kasih dia dalam bentuk pinjaman. Jadi kita ikat dia supaya bertanggung jawab.

Berarti nanti ada semacam timbal baliknya ya?

Jadi kita selalu bilang, uangnya pp ini gak banyak karena memang itu kan gaji kita yang dipotong. Jadi sumber dananya dari gaji. Karena mereka tidak mau menerima uang dari negara dan karena mereka gak mau menerima uang dari donor. Jadi dia mau uang kita sendiri. Nah uang kita sendiri dari mana? Ya sudah akhirnya kita sepakat potong gaji.

Alasannya kenapa Bu, mereka gak mau menerima?

Karena mereka tidak mau dikooptasi negara. Dan donor itu kan dianggap kafir.

Oh, berarti pemikiran mereka masih menganggap pemerintah itu bughot masih ada ya?

Oh banyak.

Nah itu gimana bu, supaya mereka berubah?

Nah kita coba pelan-pelan. Jadi pendampingan kita itu bukan sekedar pendampingan ekonomi ya, karena bukan itu tujuan kita. Pendampingan ekonomi itu hanya sarana, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita merubah cara berpikirnya. Nah itu kita pelan-pelan. Gak bisa itu cepet. Untuk ideolog-ideolog dalam dunia terorisme ini kan ada tiga level. Ada pengikut, ada simpatisan, ada timtek ya: ideolognya. Nah merubah ideolog itu panjang prosesnya. Kalau merubah dua level di bawah ini agak lumayan. Nah itu kita mencoba merubah dia. Kita kasih wacana-wacana baru, kita kasih lingkungan baru, kita kasih temen-temen baru. Pelan-pelan kita coba tarik mereka.

Dan itu bisa dikatakan berhasil atau bagaimana?

Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Itu, dari 35 orang yang kita dampingi, lima orang ternyata kembali ke kelompok garis keras lagi. Tapi yang 30 lainnya masih bertahan.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan mereka kembali lagi, padahal sudah diadakan berbagai usaha seperti pendampingan dll?

Sebenarnya ada banyak faktor. Jadi gini, kelompok ini kan merasa bahwa mereka masih punya banyak tanggung jawab terhadap islam: membela islam dan mengislamkan Indonesia. Jadi mereka merasa masih punya tanggung jawab itu dan juga mimpi untuk mewujudkan itu. Nah mereka juga merasa bahwa mereka adalah bagian dari dunia. Dalam artian apa yang terjadi di dunia islam sana mereka harus membantu, mereka merasa terpanggil. Jadi dari yang lima ini kembali lagi. Baik di tingkat lokal maupun tingkat internasional. Jadi misalnya ada kegiatan-kegiatan terorisme -aksi-aksi yang menggunakan kekerasan- mereka ikut lagi karena mereka merasa terpanggil bahwa ini tanggung jawab dia untuk membela islam. Nah kalu yang di luar adalah tanggung jawab dia sebagai sesama muslim terhadap saudaranya.

Gerakan terorisme di Indonesia begitu masif ya Bu. Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah atau aparat sampai ada pesantren besar di Lamonga: Al Islam itu. Mereka mempelajari granat dan berbagai senjata api?

Pemerintah kecolongan ini. Tapi setelah kasus Amrozi cs dihukum mati kayaknya pesantren ini jera ya. Jadi Al Islam sekarang sudah tidak ngajarin lagi tetapi masih ada pesantren-pesantren lain yang mengajarkan. Nah pemerintah kitu itu kan tidak bisa melarang karena ada kebebasan yang merupakan ciri dari demokrasi. Terkadang demokrasi juga salah jalan, hehe. Senjata makan tuan. Nah pemerintah kita merasa, satu: kalau mereka belum terbukti melanggar hukum baik itu hukum pidana, kan gak bisa ditangkep. Meskipun ada tanda-tanda yang mengarah kesitu. Pemerintah menunggu mereka beraksi dulu, karena kalu ditangkep pemerintah dianggap melanggar HAM. Saya juga pernah nanya, “ Pak, FPI itu kan sudah jelas-jelas. Kenapa tidak ditangkep, kenapa tidak dibubarin?”. “Lha terus gimana Bu, belum ada bukti kuat?”. Nah jadi gitu, ada sisi positif tetapi juga ada sisi negatif juga ya. Jadi mereka ahirnya menyalah gunakan kebebasan itu kan.

Kemarin Ibu kan menghadiri seminar terorisme itu ya. Kira-kira bisa dishare kah?

Nah jadi seminar ini digagas oleh Family Against Terrorism and Extremism. Jadi ada sebuah kelompok di London. Nah mereka ini suatu kelompok yang concern  terhadap keluarga yang anak-anaknya ini direkrut oleh ISIS, Jabal Nushro. Pokoknya organisasi-organisasi yang melakukan kekerasan atas nama agama. Nah mereka ini para orang tua yang sudah kehilangan anak-anaknya. Ada yang meninggal dan ada juga yang gak meninggal. Mereka mencoba membangun solidaritas. Ayo kita bergabung bersama-sama dan kita suarakan untuk against terrorism and ekstremism. Sekitar 100-an orang hadir tapi itu belum mencakup seluruh dunia. Karena dari Asia Tenggara saja yang hadir cuman Indonesia dan Malaysia. Jadi ini respresentatif saja. Dari Amerika Utara ada, dari Eropa ada, dari Afrika ada, dari Asia ada. Ini perwakilan sekitar 100 orang. Dan mereka mengajak kita untuk bergabung untuk menyuarakan hal yang sama. Agendanya kemarin itu kita mendengarkan curhatan dan kesedihan para ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya karena korban perekrutan. Ada juga agenda berupa bertukar informasi tentang dialektika: Apa sih yang menyebabkan orang ini terekrut? Harusnya kan kayak gini. Ini kan perdebatan konteks agama, konteks politik. Maka ini harus dishare lah dari beberapa narasumber. Terus juga yang terahir mereka sharing hasil riset mereka . JAdi mereka melakukan riset terhadap perempuan; peran orang tua. Mereka melihat: Kira-kira keluarga punya peran gak sih dalam Konkret Ekstremism and Terrorism?

Ternyata mereka mengadakan riset dan riset mereka menunjukkan bahwa orang tua punya peran yang besar dalam memerangi terrorism and ekstremism yang mana dalam riset saya, saya menumakn hal yang terbalik. Ndak..ndak. Saya menemukan itu juga, tapi ada factor lain juga, ada peran lainnya juga yang dimainkan oleh orang tua. Jadi saya share kemarin bahwa tidak semua orang tua punya rule positif. Karena di Indonesia saya temukan ada rule negative. Rule negatifnya justru orang tua yang menjadikan anaknya supaya menjadi jihadis. Seperti yang saya ceritakan dalam film ‘Jihad Selfie’ itu. Ada Anshori dan Syafi’i. Dia pingin kan anak-anaknya menjadi jihadis? Nah itu yang sempat kita capture kan. Yang tidak dimuat dalam film kami juga ada.

Lalu apa reaksi dari teman-teman saat ibu memaparkan hasil riset tersebut?

Oh iya, benar juga ya. Nah untuk orang tua yang memerankan peran seperti ini kita musti gimana? Kalau dengan orang tua yang punya peran positif, oke. KAn harus mendampingi, merangkul. Nah itu bener. TApi kalua orang tua yang perannya justru negative, kan kita musti gimana menghadpinya? Kan itu jutru susah kan? Kita malah dianggap berlawanan kan dengan tujuan dia. Nah ini saya sendiri sedang berpikir; Gimana caranya menghadapi orang tua-orang tua yang kayak gitu? Strategi apa yang harus kita pakai?

Saat ini Ibu dkk sudah punya gambaran kah?

Nah ini kita sedang diskusi; gimana caranya ya? Nah samapai saat ini kami baru terpikirkan bahwa salah satu caranya adalah kita melakukan semacam life in gitu. Karena merubah itu gak gampang kan. Harus tinggal bersama. Jadi saya mulai berpikir; strateginya apa pakai ekonomi ya? Saya lagi berpikir begitu. Nanti kita bikin usaha. Cuman itu usahanya, lagi-lagi sebagai pintu masuk. Tapi target kita; bagaimana merubah pikiran para ibu ini? Ini masih cara klasik. Karena saya belum nemu cara yang lain, hehe.

Saya tertarik dengan obrolan ibu kemarin. Ternyata motif orang-orang yang bergabung dalam kelompok radikal itu berbeda-beda. Bisa diceritakan lebih detailnya, Bu?

Motivasi orang-orang yang berangkat jihad itu bermacam-macam. Motivasi membela islam itu sudah pasti. Tapi ternyata ada motivasi ekonomi. Saya ajak diskusi salah satunya. Dia bilang begini : ‘’Mba kan enak. Wong kita dibayar. Coba kalau kita gak gabung ISIS, siapa yang mau kasih makan? Kita dijamin kok. Anak-anak saya dijamin pendidikannya, istri saya pun terjamin kehidupannya (mendapat rumah)”. Terus saya bilang: “Itu berarti  Karena motif duit juga ya? “.

“Iya lah. Kita gak munafik juga”.

Terus ada yang menarik juga ini. Anak-anak muda ini ada faktor ingin membahagiakan orang tuanya (membeli surga). Jadi ada kasus diamana anak-anak yang rela melakukan jihad itu hanya untuk memberikan surga kepada ibunya. Itu yang membuat saya jadi ‘trenyuh’ ya. Itu kayak kasus Wildan dan Solih yang kayak di film. Sama satu lagi kasus. Itu belum ada di film kita. Saya lupa namanya. Dia orang Solo. Motifnya dia ingin memberikan surga kepada Ibunya. Jadi suasana di rumahnya dia itu ‘panas’. Dia sering melihat ayah-ibunya bertengkar. Dan dia melihat ibunya itu sering tertekan karena bapaknya yang lebih dominan. Jadi dia ingin memberikan hadiah yang nilainya tidak bisa didapatkan dengan materi. Nah surga kan mahal. Hadiah surga siapa yang bisa ngasih? Nah dia ingin memberikan hadiah surga kepada ibunya dengan cara jihad itu. Maka jihad lah dia. Ahirnya ia menjadi korban perekrutan.  Kalau yang satu itu awalnya ia berangkat studi ke luar negeri kemudian ia bergabung dengan organisasi kemanusiaan. Namun kemudian di tengah jalan ia bergabung dengan kelompok ISIS. Sebelum dia berjihad -dia kayaknya sudah mempunyai firasat bakal meninggal- dia menelpon ibunya. Dia bilang: “ Tolong ikhlaskan saya karena ini adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan ibu. Saya ingin memberi surga.” Sempat dia menelpon ibunya dan memberikan itu. Makanya kalau kita ketemu ibunya. Ibunya kan cerita sama saya, sampai dia bilang: “ Saya ini gak pantes mendapat surga sebenernya karena saya itu masih kotor.” Saya nanya: “Ibu bangga ndak anaknya jadi jihadis dan bisa ngasih surga?”. Dia jawab: “Saya itu masih ingat ya dia lari-lari sana, tidur sama saya, main-main.” Nah jadi ibu itu tu melihatnya bukan dia sebagai jihadis tapi masa kecil anak ini. Dan itu yang membuat kita sedih juga.

Terus kalau yang Wildan Mukholad itu kan dia juga dari keluarga broken home . Nah dia pingin begitu. Dia ingin membahagiakan ibunya.

Korban perekrutan DI Indonesia itu kan cukup banyak ya Bu. Sekitar 500-an. Apakah ada motif lain atau agenda khusus yang menyebabkan mereka sangat semangta merekrut anak-anak Indonesia?

Saya melihatnya begini. Merekrut orang dengan gratis kan susah. Dan orang-orang yang dipilih ini sebenarnya juga yang dilihat skillfull ya. Bukan orang-orang yang kosong. Mereka orang-orang yang mempunyai kemampuan. Kayak teman saya itu, dia ditawari berkali-kali. Karena teman saya ini sudah pernah latihan militer saat dia sekolah di Pesantren Al Islam.  Nah dia itu kayak snipper juga. Dia itu dicoba ditarik berkali-kali tapi dia menolak terus. Nah kalau saya si melihat begini, mereka itu butuh personel/tentara yang gak perlu dilatih lagi, tetapi siap mati.

Terahir Bu. Apa pesan ibu untuk kami mahasiswa yang di midle east agar tidak menjadi korban perekrutan gerakan-gerakan radikal semacam ISIS itu?

Pertama gini. Belajar yang baik. Dalam artian jangan menelan mentah-mentah informasi-informasi yang berkaitan dengan konflik di Timur-Tengah. Kalian kan di Timur-Tengah ini. Tapi pahami motif konflik-konflik itu apa si sebenernya? Seperti contohnya, kasus Syiria. Dikabarkan tentang perang Sunni-Syiah tapi ternyata bukan seperti itu. Motifnya ekonomi dan politik. Perebutan jalur minyak.

Saya ketemu orang Palestina waktu saya kuliah di Korea datang dua orang Palestina ke kampus saya. Ternyata motifnya bukan perang yahudi vs HAMAS, tetapi lebih ke morif ekonomi. Jalur juga. Kepentingan-kepentingan Yahudi, kayak gitu. Jadi itu motifnya ekonomi banget, motifnya politik banget. Jadi bukan motif orang-orang Islam yang dibunuh sama orang-orang non-muslim ya. Nah itu tolong dipahami.

Seperti saat saya ke Afghanistan juga. Saat saya di Afghanistan, saya mempelajari. Ternyata motif perang di Afghanistan itu bukan seperti motif perang yang dipahami oleh teman-teman Mujahidin kita di Indonesia. Ternyata motif perangnya lain. Oh iya, benar juga ya. Dan bahkan orang Afghanistannya bilang begini: “ Kami sudah capek perang terus. Negara kami gak pernah damai”. Nah keberadaan kita justru semakin memperpanjang perang ini. Nah itu kan kasian juga mereka. Jadi jangan cuman memandang dari ‘kacamata’ kita tapi kita harus memandang dari ‘kacamata’ orang lain, terutama masyarakat setempat. Jadi sebagai mahasiswa kalian harus berpiki kritis. Jangan hanya melihat suatu perkara dengan ‘kacamata kuda’ namun harus bisa melihatnya dari berbagai sisi. Pelajari lah konflik itu. Ketika anda direkrut kepentinga dia merekrut apa si sebenarnya?. Kita harus kritis. Jangan menelan mentah-mentah karena kalau kita menelan mentah-mentah kita akan menjadi korban. Nah, jadi sebagai mahasiswa kritislah dalam berpikir.

Terima kasih banyak Bu. Semoga bisa bermanfaat dan semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan yang lain. [AJU]

PPI Tunisia Kedatangan Tamu Peserta ARFI 2016

Sekretariat PPI Tunisia terlihat ramai, tak seperti biasanya. Mahasiswa Indonesia di Tunisia memadati aula sekretariat PPI Tunisia yang terletak di Makhla Zaim, Tunis. Mereka sedang antusias menyimak nasehat-nasehat serta menerima wacana-wacana segar dari Indoensia oleh 10 dosen dari Indonesia. Mereka adalah peserta Academic Recharging for Islamic Higher Education (ARFI) 2016 yang mendapat tugas ke Tunisia. Sore itu, Selasa (18/10) adalah acara perkenalan sekaligus ramah tamah peserta ARFI 2016 dan PPI Tunisia.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ketua PPI Tunisia, Ariandi, Lc. Mahasiswa pascasarjana jurusan akidah dan filsafat ini memperkenalkan kondisi Tunisia dan PPI Tunisia secara umum. Selanjutnya Ketua Umum PPI Tunisia 2016 memperkenalkan anggota-anggota PPI Tunisia yang saat ini berjumlah tak lebih dari 40 orang itu.

Pak Supriyanto selaku ketua rombongan memimpin perkenalan pada sore hari itu sekaligus memberikan kalimat pembukanya. Dosen IAIN Purwokerto ini memberikan sekelumit wacana-wacana baru tentang gerakan radikalisme di Indonesia. Selanjutnya beliau memberikan kesempatan kepada sepuluh peserta ARFI 2016 untuk memperkenalkan diri masing-masing.

Sepuluh peserta itu adalah Bapak Muhandis Azzuhri dari STAIN Pekalongan, Ibu Nur Hasaniyah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pak Roviin dari IAIN Salatiga, Bapak Ahmad Atabik dari STAIN Kudus, Bapak Zaki Ghufron dari IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Bapak Taufik Warman Mahfuzh dari IAIN Palangkaraya, Bapak Khairul Hamim dari IAIN Mataram, Bapak Muhammad Jafar Shodiq dari UIN Sunan Kalijaga, dan terahir Ibu Fatwiah Noor dari STAI Darul Ulum Kandangan Kalimantan Selatan.

Sepuluh peserta ARFI 2016 semuanya kompak memberikan pesan yang sama kepada mahasiswa untuk fokus dan serius dalam belajar selagi masih muda. Seperti pesan yang disampaikan oleh Pak Atabik. “Sebenernya kita ini kalau mau berusaha, bisa. Mau jadi apapun juga bisa kalau kita mau berusaha. Apalagi -seperti yang saya katakana tadi, kawan-kawan ini nanti akan menjadi alumni-alumni Timur tengah yang mempunyai nilai plus di mata masyarakat”, pesan dosen STAIN Kudus sekaligus wakil ketua PC NU Lasem.

Acara ramah tamah sore itu kemudian ditutup dengan solawat bersama dan santap malam ala nusantara. [AJU]

Santri Ezzitouna dan Jejak Transmisi Intelektualnya

oleh: Dede Ahmad Permana, kandidat doktor dalam bidang Syari’ah Islamiya Universitas Ezzitouna

Pengembaraan intelektual sahabat kami, Saptono Bin Sabon di Tunisia, berakhir hari ini. Nanti siang, ia akan pulang ke tanah air.

Selama 10 tahun di Tunis, Tono – panggilan akrabnya – tekun mengaji pada sejumlah ulama di negeri Zaitunah ini, hingga meraih sejumlah ijazah sanad dalam ilmu-ilmu keagamaan.

Dari Syekh Farid al Baji – ulama ahli hadits terkemuka / pimpinan pondok Dar al Hadits az Zaituniyyah– Tono mengaji hadits hingga memperoleh ijazah sanad kitab Adab al Mufrad (karya Imam Bukhari) dan kitab al Muwatha (karya Imam Malik).

Guru Mahasiswa Indonesia Kembali ke Ibu Pertiwi

Dari Syekh Husni bin al Burni al Ayasyi al Azhari, ia mendapatkan ijazah sanad kitab as Syamail al Muhamadiyah (karya Imam Turmudzi), kitab hadits al Arba’in an Nawawiyah, kitab Dalail al Khairat (karya Imam Jazuli), serta beberapa bab dari kitab Sunan Nasai. Dari Syekh Husni pula, Tono belajar fikih Maliki melalui kitab Mursyid al Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), serta meraih ijazah sanad beberapa musalsal hadits seperti Musalsal fi Qiraah Surat as Shaf, Musalsal bin Nidaaini Yaumal Jumah, Musalsal bil Fuqaha, dan Musalsal fi al Qabdhi ‘ala al Lihyah.

Ijazah sanad kitab as Syamail al Muhammadiyah juga ia dapatkan dari Syekh Ali Gharbal, putera ulama kharismatik Tunis pada masa lalu : Syekh Muhammad Gharbal. Sedangkan dari Syekh Mushtafa Ma’tuq, ulama sepuh asal kota Sfax, Tono mengaji kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid al Mursalin (karya Syekh Muhamad Khudari).

Di bidang akidah- akhlak, pria lajang berusia 30 tahun ini belajar pada Syekh Nizar Hammadi, ulama Zaitunah yang dikenal produktif menulis dan mentahqiq / pimpinan Markaz ibn Arfah lit Takwin al ‘Ulum al Insaniyah. Dari ulama muda ini, ia mempelajari bab Akidah dalam kitab Mursyidul Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), kitab al Yaqut al Faridah fi Nadhmi Lubab al Aqidah, kitab Mukhtashar al Iji(bidang akhlak), serta kitab ad Dalil al Qaid li Dirasat Ilm al Aqaid. Kitab yang disebutkan terakhir adalah karya Syekh Nizar sendiri.

Sedangkan kitab tasawuf terkenal, ar Risalah al Qusyairiyah, ia pelajari dari Syekh Mounir Kamantar, ulama Tunis lulusan Damaskus dan Kairo yang pernah menjadi salah seorang syekh di Masjid Al Azhar.

Dari Syekh Abdul Mun’im Bisyr, pria yang bercita-cita mendirikan pesantren ini menamatkan kitab Ushul Fiqh terkenal : Waraqat (karya Imam al Juwaini), kitab Sullam al Munauraq di bidang Mantiq, serta kitab Syarh al Muqaddimah al Ajrumiyah fi Ilm Ushul al Arabiyah di bidang tata Bahasa Arab (karya Syekh Khalid al Azhari). Dari Syekh Burhan Nefati, ia belajar Ushul Fiqh Maliki, melalui kitab Syarh Tanqih al Fushul (karya al Qurafi). Syekh Nefati ini tiada lain pembimbing thesis Tono di Universitas Zaitunah.

Selain kuliah dan mengaji, Tono juga mengikuti program tahfidz di kawasan Bardo dan Zahra. Kini, ia telah menghafal 20 juz sekaligus memegang sanad beberapa qiraat mu’tabarah. Salah satunya qiraat Qalun 4 wajah, yang ia dapatkan dari Syekh Ali Bou Syalaghim. Ulama ahli Qiraat al Asyrah al Kubra ini juga mengajarkan syarah Matan Jazariyah (bidang tajwid) kepadanya.

Tono juga pandai menulis khat /kaligrafi. Bersama guru kaligrafinya, Syekh Muhamad Yasin Mathir, ia menulis kaligrafi di sejumlah Masjid di kota Tunis.

Oya satu lagi yang tak kalah keren : Tono bisa bahasa Turki, buah dari persahabatannya dengan para mahasiswa Turki di Tunis. Tak heran jika kemudian ia dipercaya sebagai pengajar les bahasa Arab mereka, serta menjadi guru agama di Sekolah Internasional Turki di kota Tunis. Ia juga pernah berkunjung ke negeri Turki atas undangan sahabat-sahabat Turki-nya.

*
Masih banyak gurunya yang lain yang belum disebut, seperti Syekh Kamal Sa’adah, Syekh Shalahudin el Mistaoui, serta sejumlah syekh di Masjid Zitouna, tempat ia mengaji talaqqi di Ta’lim Zitouni beberapa waktu lalu.

Berkat bimbingan mereka, Tono puas mereguk segarnya samudera ilmu pengetahuan, lalu menyerap wawasan spiritual yang kelak akan ia kucurkan lagi kepada murid-murid sebangsanya di tanah air. Dengan demikian, proses transmisi intelektual Islam dari Magrib Arabi (khususnya Tunisia) ke Indonesia terjadi. Di antaranya melalui Tono.

*
Hari ini, guru para mahasiswa Indonesia di Tunis ini akan kembali ke kampung halamannya di Cirebon, membawa selembar ijazah S1, selembar ijazah S2 (bidang Ushul Fiqh), serta belasan lembar ijazah sanad beragam ilmu, dari para gurunya.

Lembaran-lembaran ijazah itu hanyalah kertas yang suatu saat akan usang ditelan masa. Akan tetapi warna-warni pengalaman yang terekam dalam memori, buah pengembaraannya selama 10 tahun di Tunis, itulah yang abadi. Dan semua itu akan memperkaya cerita-cerita Syekh Saptono kepada murid-muridnya di tanah air nanti, Insya Allah.

Selamat jalan sahabatku. Negerimu nun jauh di sana, menanti kiprahmu.[AJU]

Tunis al Khadra, 29 September 2016

Sambut Hari Raya Idul Adha, PPI Tunisia Bentuk Panitia Kurban 2016

Tak terasa waktu terus bergulir memasuki pertiga akhir bulan Dzul Qo’dah atau Dzul Qo’idah dan sebentar lagi kita akan menyambut bulan Dzul Hijjah. Pada bulan Dzul Hijjah nanti, kaum muslimin akan bersama-sama merayakan hari raya kurban atau ‘Idul Qurban atau ‘Idul Adha. Pada saat yang sama saudara kita yang melaksanakan ibadah haji sedang berada di Mina untuk melaksanakan jumraat.

Momen hari raya kurban merupakan salah satu momen yang sangat utama bagi kaum muslimin, baik yang melaksanakan ibadah kurban maupun yang berhak menerima daging kurban. Bagi yang berkurban, banyak sekali keutamaan-keutamaan seperti disebutkan dalam beberapa hadis nabi Muhammad Saw. antara lain Allah akan memberikan pahala kebaikan disetiap bulu dari hewan kurban, sebagai syiar agama Islam dan masih banyak lainnya.

Bagi penerima daging kurban, mereka yang sehari-harinya tidak mampu mengkonsumsi daging akan ikut merasakan kegembiraan mengkonsumsi daging hewan kurban. Seperti di sebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Saw; “Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]

Dan untuk menyambut serta memudahkan pelaksanaan ibadah kurban, khususnya bagi masyarakat Indonesia, PPI Tunisia berinisiatif membentuk panitia Kurban 2016. Pada tahun 2016 kepanitian di-ketua-i oleh Ust. Mufti Aqli.

Alhamdulillah, pada malam tanggal 23 Agustus 2016 panitia telah melaksanakan rapat guna dengan agenda pembahasan ; pra pelaksanaan kurban, pelaksanaan kurban dan paska kurban bertempat di halaman Kampus Azzaitunah, samping kafe Tigana. Nantinya panitia akan terus mengumumkan hasil-hasil keputusan rapat kepada seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Tunisia.

Rapat Panitia Kurban 2016 PPI Tunisia

Rapat Panitia Kurban 2016 PPI Tunisia

Rapat Panitia Kurban 2016 PPI Tunisia

Semoga dengan dibentuknya kepanitiaan ini, akan membantu memudahkan dan memfasilitasi masyarakat Indonesia yang ingin melaksanakan ibadah kurban di Tunisia.

Simposium PPI Dunia, Hasilkan Rekomendasi Untuk Bangsa

PPITunisia – Senin (23/07) menjadi ajang pembukaan perhelatan akbar tahunan para pelajar Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Mereka tergabung dalam satu wadah besar; PPI Dunia. Simposium PPI Dunia ke-8 yang merupakan ajang silaturahmi dan diskusi tahun ini diadakan di salah satu universitas tertua di dunia, Al Azhar Al Syarif Kairo.

Ppitunisia ramaikan SI Kairo 2016

Acara ini berlangsung selama lima hari (24-29/ 07) dengan susunan agenda yang beragam. Pembukaan Simposium Internasional PPI Dunia yang ke-8 dilaksanakan di Auditorium Muh. Abduh. Sebuah gedung bersejarah di universitas yang kaya akan nilai historianya juga. Menag RI Dr. Lukmah Hakim Saefudin membuka SI Kairo dengan pukulan gong sebanyak lima kali yang merupakan symbol dari Pancasila, idiologi Bangsa Indonesia.
Menag yang secara khusus menghadiri SI Kairo ini menunjukkan apresiasinya kepada PPI Dunia atas kontribusinya dalam mengahrumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dr Lukmah Hakim berpesan kepada para kader bangsa dalam kesempatan itu untuk focus dalam memperdalam ilmu pengetahuan agar para kader bangsa tidak kehilangan orientasinya. “Kita berkewajiban untuk memperdalam ilmu pengetahuan, ini penting. Agar tidak kehilangan orientasi. Negara menunggu anda semua”, pesannya dalam sambutan pembukaan SI Kairo ke-8.

Dalam kesempatan yang sama Duta Besar untuk Mesir, Helmi Fauzi mengatakan bahwa acara symposium ini merupakan inisiatif dari para mahasiswa yang merupakan suatu kehormatan dan sangat membanggakan Indonesia. Selain itu, beliau juga berharap ajang symposium tahunan ini bias menjadi ajang diskusi dan kemudian menhasilkan rekomendasi-rekomendasi yang akan menjadi solusi untuk problematika bangsa saat ini.

Hadir pula pada kesempatan itu Deputi Grand Syeikh Al Azhar, Abbas Syauman, mantan Ketua MK, Prof. Dr. Mahfudz MD, Presiden PPMI Mesir, Abdul Ghofur Mahmudin dan Koordinator PPI Dunia, Steven Guntur.
Beberapa rankaian diskusi panel akan digelar demi mencari solusi-solusi terbaik di tengah problematika bangsa yang sedang memanas. Ada tiga bidang yang akan ditarik dalam meja diskusi; agama, politik, pendidikan, dan ekonomi.

Sesi pertama membahas tema besar SI Kairo 2016 “ Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia’ dalam perspektif agama yang akan disampaikan oleh Menag RI Dr. Lukman Hakim Saefudin. Beliau membahs tentang ‘Demoralisasi Bangsa Indonesia” . Beliau menyampaikan, “Banyak masyarakat yang pesimis dengan bangsanya sendiri. Saya ingin membangkitkan rasa optimisme kembali, karena masih banyak hal-hal postif yang tidak terekspose di media”.

Kemudian untuk sesi kedua tema diskusi seputar “ Mengembalikan Identitas Bangsa “ yang disampaikan oleh Prof. Dr. Mahfud MD. Ia sangat menyayangkan identitas bangsa yang semakin terkikis perlahan-lahan. Menurutnya hal ini dikarenakan adanya permasalahan ekonomi, budaya, hokum, pendidikan dan agama. Selain itu juga ada kaiitannya dengan Hak Asasi Manusia.

Dan untuk sesi ketiga, bertindak sebagi pemateri Muhammad Danial Nafis dan Amsal Bakhtiar. Danial Nafis yang merupakan CEO dari media online; actual.com mengatakan bahwa media berperan aktif dalam memperteguh identitas bangsa. Pendidikan karakter bangsa bias terbentuk karena media. “ Media ikut berperan aktif dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berbudaya”, jelasnya.

Sedangkan Amsal menjelaskan bahwa kemajuan bangsa terletak pada tiga hal pokok utama, yaitu ilmu teknologi, ekonomi, dan militer. “Semua orang harus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya supaya bias menjadi orang yang excellent. Pendidikan sangat oenting karena itu merupakan kunci utama menuju kesuksesan suatu bangsa”, pesannya.

Sidang Empat Komisi

Selain diskusi-diskusi panel dengantema-tema menarik dan motivatif, PPI Dunia juga menggelar sidang komisi yang terdiri dari empat bidang kajian besar, yaitu agama, pendidikan, politik dan ekonomi. Semua peserta diskusi dibagi sesuai dengan komisi yang mereka minati.

Pada komisi agama, pembahasan serius seputar isu radikalisme dan pelecehan agama. Untuk upaya-upaya penyelesaiannya dibentuk lah tim kajian dan media kerohanian dalam PPI Dunia yang akan ditujukan kepada tiga stakeholders yakni Kementrian Agama, Kementrian Informasi dan Komunikasi dan BNPT. Pada kesempatan itu PPI Tunisia mendapat amanah sebagai penanggungjawab tim kajian melalui delegasi kami, Achmad Jauhari Umar.

Untuk komisi pendidikan, isu yang menjadi kajian utamanya adalah seputar kesejahteraan guru dan akses pendidikan di daerah terpencil. Untuk upaya penyelesaiannya PPI Dunia akan membetuk suatu gerakan pembangunan 100 sekolah dasar dan penggalangan dana bersama untuk kenaikan gaji para tenaga pengajar. Dan untuk foloow up dari semua upaya itu akan dibentuk ‘kelas inspirasi’ baik onlene atau pun offline guna merangkul masyarakat di daerah tertinggal.

Kemudian untuk komisi politik, isu yang menjadi kajian utamanya adalah gerakan separatis Papua Barat dan munculnya gerakan antidemokrasi di berbagai negara khususnya negara-negara di kawasan Timur-Tengah. Dalam proses penyelesaian isu-isu terkait PPI Dunia berinisiatif mengadakan tim kajian Papua PPI Dunia dan mengadakan kegiatan lintas budaya bertemakan Demokrasi di Indonesia di setiap PPI yang tergabung dalam kawasan PPI Afrika dan Timur-Tengah.

Terahir, untuk komisi ekonomi isu peningkatan ekonomi pada level grass-root menjadi kajian utamanya. Dalam rangka menyelesaikan permasalahn tersebut PPI Dunia bekerjasama dengan UGM, UNPAD, LPPM IPB, UIN Jakarta, dan UIN Palembang akan membnetuk ‘desa binaan’ .

Sidang Pleno PPI Dunia

Puncak agenda SI Kairo, yaitu sidang pleno diaadakan di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, KBRI Kairo Lt. 5. Diawali dengan pembahasan tata tertib sidang yang cukup memakan waktu sidang dimulai. Disusul pemilihan presidium sidang. PPI Malaysia melalui delegasinya, Akita … terpilih menjadi presidium sidang. Selain dari PPI Malaysia dewan presidium juga terpilih dari PPI Filipina dan dari PPMI Mesir. Semuanya berjumlah tiga orang.

Dengan tepilihnya presidium sidang yang baru sidang berjalan lebih harmonis namun juga tetap kritis. Peserta semakin semangat. Agenda berikutnya adalah LPJ Koordinator PPI Dunia oleh Stevan Guntur, LPJ PPI kawasan. Untuk PPi Dunia sendiri terdiri dari tiga kawasan Timur-Tengah dan Afrika yang dikomandoi oleh PPMI Saudi Arabia, kemudian Amerika-Eropa yang dikomandoi oleh PPI Ceko, dan terahir Asia-Oceania yang dikomandoi oleh PPI Korea. Mereka berdiri di depan peserta sidang dari 48 negara yang ada, berupaya mempertanggung jawabkan amanahnya selama setahun masa jabatan mereka. LPJ berhasil diterima meski diterima bersyarat.

Disusul agenda berikutnya penetapan PPI TV yang merupakan buah karya dari PPI Jerman, masuk ke dalam badan otonom PPI Dunia. Setelah melalui sidang yang cukup alot ditetapkan lah bahwa PPI TV menjadi bagian dari PPI Dunia dan diberikan masa percobaan selama satu tahun sebelum ditetapkan menjadi badan otonom PPI Dunia.

Agenda berikutnya adalah rapat PPI Kawasan, pemilihan Koordinaor yang baru dan tuan rumah simposium 2017. Berdasarkan hasil sidang beberapa keptusan dihasilkan;

Koordinator PPI Dunia 2016 – 2017 : Intan Irani ( PPI Italia )

Tuan Rumah SI PPI Dunia 2017: PPI UK

 

Kawasan Asia-Oseania

Koordinator : PPI Tiongkok

Sekretaris : PPI Thailand

Tuan Rumah Simposium Kawasan : PPI Taiwan

 

Kawasan Amerika-Eropa

Koordinator : PPI Turki

Sekretaris : PPI Belgia dan PPI Jerman

Tuan Rumah Simposium Kawasan : PPI Italia

 

Kawasan Timur Tengah-Afrika

Koordinator : PPI Sudan

Sekretaris : HPMI Yordania

Tuan Rumah Simposium Kawasan : PPMI Arab Saudi.

Acara terahir yaitu pengumuman PPI Award dengan beberapa nominasi. Diantaranya adalah PPI Terbaik, publikasi terbaik. Pengumuman diawali dengan game outdoor di Al Azhar Park sembari menikmati mentari di senja hari. PPI UK berhasil meraih PPI Award dengan nominasi ppi terbaik sedang kami, PPI Tunisia berhasil meraih award dengan nominasi publikasi terbaik. [AJU]